Teras Belajar Indonesia

06.30



Kang Agus yang belakang, berkacamata

Bagi Kang Agus, begitu ia disapa. Pendidikan menjadi pilar terpenting dalam pembangunan bangsa. Melalui generasi bangsa yang mengenyam pendidikan yang baiklah, bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang hebat. Ia juga memaparkan bahwa pendidikan dapat menjadi alat yang tajam sebagai pemutus rantai kebodohan di negeri ini.

pendidikan adalah alat yang sangat tajam untuk memutus rantai kebodohan, dan sekolah bisa jadi wadah untuk mewujudkannya”, ujarnya saat ditemui di Sekolah Rakyat asuhannya, di Rancabelut, Cicalengka, Kabupaten Bandung.


Kang Agus, menjadi Kepala Sekolah Rakyat yang ia bangun sejak tahun 2008 silam bersama rekan-rekannya. Saat itu ia masih berstatus sebagai siswa SMA di SMAN 1 Cicalengka. Keprihatinannya terhadap realitas pendidikan di Rancabolang, salah satu desa di perbukitan Cicalengka membuatnya bangun dari duduk, santai, atau hanya sekedar nongkrong-nongrong layaknya anak muda lainnya.

Ia yang tercatat sebagai siswa SLTA saat itu, bersama rekan-rekannya di Lembaga Swadaya Masyarakat Frekuensi, yang terdiri dari beberapa pelajar dan mahasiswa di berbagai kampus, bergerak ke Desa tersebut untuk mengajar anak-anak.

Di Desa Rancabolang, anak-anak setelah lulus Sekolah Dasar (SD) banyak yang tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka memilih menjadi pekerja, entah itu ikut dengan saudaranya menjadi pembantu rumah tangga di kota, atau berkebun bersama orang tuanya.
Kondisi tersebut seakan menjadi hal yang lumrah, mengingat orang tua di Desa tersebut menjadikan kendala biaya menjadi latar belakangnya. 

Di tahun 2008, Kang Agus mengajak beberapa rekannya untuk mengajak anak-anak khususnya yang sudah lulus SD untuk belajar. Mereka biasa belajar di Mushola, posyandu, bahkan di teras rumah warga.

Meski saat itu siswanya hanya berjumlah tiga orang, namun pembelajaran oleh Kang Agus dan rekannya tetap dilakukan. Sembari mengajak beberapa anak lainnya. Namun ternyata tiga orang siswa yang di ajar tersebut pun menghilang, mereka tidak lagi muncul untuk belajar.

Kang Agus bersama rekan-rekannya pun mendiskusikan hal tersebut bersama pak Agus, ia adalah Ketua Karangtaruna desa tersbut saat itu. Rencana pembangunan sebuah ruang belajar pun mereka canangkan.

Namun hal itu rupanya tidak semudah membalikan telapak tangan, saat sebuah “Saung” yang mirip dengan sebuah bale berdiri di samping rumah pak Agus, dan beberapa anak sudah tertarik bejar. Warga Desa Rancabelut menolak keras pembangunan tempat belajar tersebut. Bahkan lambat laun warga di sana menuduh Pak Agus, Kang Agus, dan rekan-rekannya akan membuat sebuah aliran sesat melalui anak-anak.

“Warga di sini menuduh kami akan menghancurkan mereka, akan menghancurkan masyarakat, dan mereka menuduh kami ini sedang membuat aliran sesat”, ujar Pak Agus.

Namun rupaya Kang Agus dan Pak Agus tidak gentar dengan hal tersebut, perjuangannya meyakinkan masyarakat akhirnya membuahkan hasil di tahun 2012. Tahun tersebut merupakan kali pertamanya Sekolah Rakyat yang kini menginduk ke SMP 1 Cicalengka tersebut menghasilkan lulusan berijazah legal.

Tidak hanya itu, kini Sekolah Rakyat tersebut menorehkan banyak prestasi. Tak tanggung, Sekolah Rakyat binaan Kang Agus tersebut menjadi juara ke-1 dua tahun berturut-turut dalam Lomba Cerdas Cermat Sekolah Terbuka se-Kabupaten Bandung.

Bangunan yang saat ini terdiri dari tiga ruang kelas ,berdiri dengan lantai panggung dari kayu dan dinding dari bambu, adalah hasil dari uang gaji pengajar yang diberikan sekolah induk padanya dan rekan-rekannya, dan digunakan untuk pembangunan ruang belajar tersebut.

Hingga kini, Kang Agus yang kini menjadi mahasiswa smester emapat di Uin Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Sejarah peradaban Islam tersebut mempertahankan aktivtasnya sebagai sebuah pengabdian kepada masyarakat, kepada generasi penerus bangsa.

“Saya bisa saja memilih duduk dan santai, tapi ini pilihan saya, kalo bukan kita siapa lagi? Kalo tidak sekarang kapan lagi?” ujarnya tegas.

Meski sampai hari ini harapan untuk memiliki bangunan yang lebih baik untuk anak-anak didiknya belum tercapai, namun tidak menyurutkan kobaran api semangat dalam dirinnya dan rekan-rekannya. Bahkan kini, ia namai pengabdiannya tersebut sebagai sebuah gerakan Teras Belajar Indonesia.

“Anis Baswedan punya Indonesia Mengajar, Kami pun punya Teras Belajar Indonesia atau TeBar Indonesia” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, beajar bukan tentang dimana dan seberapa hebat fasilitasnya, namun belajar tentang bagaiamana niat dan prosesnya.

“Bukan dimana kita belajar, tapi bagaimana kita belajar”, ujarnya singkat. (Saepul Hamdi)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts