Petaling, Desa Para Malaikat di Negeri Laskar Pelangi

00.36

Bukit Petaling, Desa Petaling-Mendanau, Belitung

"Ma, Hamdi mau ke Belitung besok ikut kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya. Doain ya Ma..." tulis saya di pesan singkat untuk Ibu di rumah.
"Ia, hati-hati su..." balas Ibu yang tak pernah absen komunikasi setiap hari meski hanya via pesan singkat.

Ikut Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 bukan tanpa alasan, ada rasa kangen nuansa berlayar bersama teman-teman baru dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda, ada rasa rindu saat berbagi cerita di tengah-tengah samudera sambil menahan mual di perut yang kadang menyiksa, dan ada rasa ingin bernostalgia saat 2015 lalu ikut kegiatan Ekspedsisi ini untuk pertama kali nya.

Namun tentu saja perjalanan kali ini tak sama. Ini kali pertama saya ikut pelayaran perintis, jumlah anggota kelompoknya lebih sedikit dan kami tinggal di satu desa selama kegiatan Ekspedisi berlangsung. Saya dan 21 teman lainnya tinggal di Desa Petaling, Pulau Mendanau, Belitung. Sebuah desa tempat Tuhan mempertemukan saya dengan para malaikatnya di Negeri Laskar Pelangi.

Saya tidak bisa melupakan saat pertama kali tiba di depan rumah Ibu Isah dan Pak Chairul. Mereka berdiri di depan pintu rumah nya dengan senyum sumuringah menyambut kami. Saya tidak sendiri, ada Gun dari Medan dan Ulin dari Purbalingga.Semenjak tiba di Desa Petaling, kami memang dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok kecil dan tinggal di rumah warga. Termasuk saya, Gun, dan Ulin yang tinggal di rumah Pak Chairul dan Bu Isah.

Pisang goreng yang masih hangat, kopi hitam panas, lengkap dengan kerupuk ikan dan kerupuk cumi disuguhkan kepada kami sore itu. Kami bertiga langsung menyantap semua yang disuguhkan tanpa malu, cuaca sangat mendukung karena baru saja hujan reda, ditambah perjalanan jauh butuh asupan yang mengenyangkan hahaha.

"Haris telpon Ibu katanya mau ada teman ke rumah, jadi sudah Ibu siapkan memang" ujar Ibu Isah sambil tertawa ramah.

Haris adalah putra kedua mereka, harusnya dia juga ikut kegiatan ini bersama kami, namun pekerjaannya di Belitung membuat Haris tidak jadi ikut, dan kami pun tidak sempat bertemu Haris secara langsung. Sementara Pak Chairul dan Ibu tinggal bersama anak pertama dan anak ketiganya yang masih kelas 1 SMP di rumah.

Suasana saat kerupuk ikan masih penuh di wadahnya :p


Rela Libur Berlayar & Jualan Demi Kami

"Rata-rata msyarakat di sini mata pencahariannya apa pak?" tanya saya pada salah satu anggota perangkat desa yang sore itu mengantar kami.
"Berkebun lada dan melaut" kata bapak nya (lupa namanya jadi bingung nulisnya hahaha)
"Oh pantes pas saya buka jendela kok banyak kebun lada" ucapku.

"Ia, lumayan. Bapak juga biasa melaut kalau malam" Ibu menambahkan.
"Malam ini juga bapak melaut? wah bisa ikut dong kapan-kapan" sok-sok an mau ikut melaut malem-malem dan pulang pagi hahaha.
"Malam ini enggak, kan ada kalian" Ujar Bapak.

Deg!, belakangan saya juga tahu kalau Ibu biasa berjualan di kantin sekolah SD di belakang rumah, namun karena ada kami bertiga Ibu lebih memilih untuk di rumah dan menyiapkan segala sesuatu untuk kami daripada membuka jualannya di sekolah. Sementara Bapak selang-seling, kadang melaut kadang tidak.

Saat subuh tiba, Ibu rajin membangunkan kami untuk solat, dan ketika menjelang pagi, tiga gelas kopi panas atau teh sudah tersedia di meja beserta beberapa jenis gorengan khas Petaling. Tidak lupa, Ibu akan selalu bertanya "Mau makan apa hari ini?".
Iman, Gun, Kakak,Hafiz Kecil, Bapak, Ibu, Saya, dan Ulin
Saking seringnya Ibu nanya "Mau makan apa hari ini" saya akhirnya menyebutkan makanan favorite saya kalau di rumah. Ikan asin dan sambal terasi hehehe, tak heran siang itu akhirnya ada menu ikan asin yang diolah pake sambal balado dan ikan asin yang digoreng biasa, ditambah satu piring sambal terasi yang pedasnya luar biasa. Makasih bu hehehe

Saat Gun dan Ulin berkegiatan di sekolah SD karena mereka satu divisi di bidang pendidikan, saya dan Ibu memutuskan untuk mencari bahan-bahan untuk membuat sayur asam. Beberapa bahan kami beli di tukang sayur keliling, tapi karena di Petaling sayuran sangat susah jadi beli bahan yang seadanya saja. Siasanya kami cari sendiri di kebun, seperti daun melinjo.Saya dan Ibu pergi menggunakan motor ke rumah Nenek, orang tua Ibu di kampung sebelah. Kami memetik melinjo untuk kemudian di bawa dan dimasak.


Iman, Kamu ini Siapa?

Saya hampir tidak percaya saat melihat Iman meneteskan air mata dan menangis ketika kegiatan kami selesai dan seluruh peserta ENJ harus kembali ke tempat masing-masing. Saya tidak ingat persis kapan bertemu Iman, anak laki-laki yang ternyata teman Rifki, anak Ibu Isah.

Anak nya tidak banyak bicara, namun selama kami bertiga di Petaling, Iman selalu ada, ikut, dan membantu kami. Tak jarang Iman juga membawa kami bertiga ke beberapa lokasi wisata saat jadwal kegiatan kami luang. Bahkan di hari-hari terakhir Iman rutin menginap di tempat kami tinggal.

Saya akan selalu ingat saat-saat kami ngobrol, keinginannya untuk belajar sangat tinggi ditambah motivasinya untuk merantau ke Tanjung atau Belitung saat SMA nanti. Dari Iman saya belajar gaya komunikasi baru. Dia tidak banyak komunikasi secara verbal, dia hanya muncul saat di rumah, mengantar kami ke sungai, dan masih banyak lagi hal-hal yang kami repotkan. Dia juga anak yang aneh, diajak makan bareng pasti bilangnya sudah makan, diajak minum kopi pasti nolak, sampe saya bingung anak ini siapa, dari mana, dan makan apa hahaha.

Foto bersama Iman sebelum akhirnya kami pulang
Masih banyak cerita yang sebenarnya ingin saya ceritakan, sama hal nya mungkin seperti teman-teman lain yang bertemu dengan malaikat-malaikat kecil di rumah tinggalnya masing-masing saat di Petaling. Apalagi kalau ingat segerombolan anak-anak karang taruna yang selalu siap sedia, perangkat desa dan pak camat yang kebaikannya tiada dua.Sampai-sampai saya, Gun, dan Ulin bingung ini kok agenda nya jalan-jalan dan makan terus dari mereka hahaha.


Pelabuhan di Petaling



"Tuhan, terimakasih sudah engkau pertemukan kami dengan para malaikatmu di Bumi. Terimakasih, karena Petaling jadi tempat yang penuh kasih dan kebahagiaan tak terkira. Dan jika engkau mengizinkan, aku ingin kembali bertemu dengan malaikat-malaikat mu di Negeri Laskar Pelangi suatu hari nanti" Saepul Hamdi



Ekspedisi Nusantara Jaya 2017
Ceritanya Bersambung...







You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts