6 Destinasi Wisata Jogjakarta Yang Istimewa

09.36


Seberapa istimewanya sih Jogjakarta buat kamu?

Bagi saya, meskipun sudah beberapa kali ke Jogja, tapi selalu saja ada sesuatu yang bikin Jogja itu istimewa, ngangenin, dan pengen balik lagi. Selain wisata sejarah candi-candi yang begitu populer, ada banyak hal lain dan tempat lain yang bisa dieksplor tentunya.

Seperti perjalan saya ke Jogja beberapa waktu lalu, perjalanan nyambil gawe dan liburan yang sepaket ini, sungguh meninggalkan kesan dan cerita yang menakjubkan.


Until We Meet Again!

Super bahagia, bukan cuman karena udah lama enggak ke Jogja, tapi malam ini juga saya bakal ketemu sama sahabat dari Bandung, sepasang suami istri yang kini sudah menetap di Jogja.

Sekitar satu minggu sebelum keberangkatan, saya sengaja kirim pesan via DM Instagram ke Sista, teman sekelas waktu kuliah yang sekarang sudah menetap di sana. Setelah punya momongan yang super gemas, Sista dan A Dimas yang juga teman sekaligus senior di kampus dan komunitas, sudah sekitar satu bulan pindah dari Bandung dan menetap di sana. 

Ah, seneng banget karena malem itu mereka jemput saya di Bandara. Gak cuman mereka, di mobil ternyata ada Teh Puji yang sedang lanjut study S2 nya di UGM. Jadi singkatnya, Saya, Sista, dan Teh Puji disatukan di Bandung di salah satu komunitas sosial bernama Kita Indonesia. Super komplit deh malam itu.

Cheesss !!!

Setelah kangen-kangenan dan solat di Masjid Bandara, kami memutuskan untuk ke rumah Sista dan menginap di sana. Pakem adalar sebuah kecamatan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kecamatan ini berada di sebelah utara dari Ibu Kota Kabupaten Sleman. Dari Bandara sekitar 30 menitan, tergantung yang bawa kendaraannya yak hahaha.

Tiba di rumah dengan bangunan motif khas ditambah sudah lama tidak ditinggali, rasanya refresh banget dan gak tau kenapa berasa banget suasananya. Kami habiskan malam itu ngobrol sampe benar-benar kantuk menyerang. 

Sista dan A Dimas cerita, kalau rumah yang mereka tinggali awalnya lebih luas. Hanya saja karena tidak dipake semua, sebagian rumah dihancurkan, kemudian sisanya mereka bersihkan dan renovasi untuk ditinggali. Rumah yang merupakan warisan peninggalan keluarga A Dimas itu sekarang jadi istana keluarga mereka. Ah seneng nya melihat sahabat sendiri sudah menjalani kehidupan begitu komplitnya. 

Gak pagi-pagi banget, tapi cukup pagi lah hahaha, Saya dan teh puji sengaja keliling desa untuk menikmati udara pagi, bahkan dari depan rumah pemandangan gunung merapi sangat nampak jelas,

"kalian beruntungm cuacanya lagi cerah hari ini" ujar A Dimas yang pagi itu mencuci mobilnya ditemani Taqi, sang buah hati yang asik main air dari ember.

Kangen rumah kalian!

Budaya Bersih-Bersih di Pagi Hari

Selalu suka, dan ingat rumah. Sepanjang kami keliling di desa, saya dan Teh Puji melewati rumah-rumah warga. Dan hampir setiap rumah, ada Ibu dan embah-embah yang sedang bersih-bersih. Ada yang nyapu, cabut rumput, dan sebagainya. Dan setiap kali itu juga, kami pasti disapa.

Mungkin mereka tau kalau kami bukan warga sekitar, ah tentu saja dengan senang hati kami pun berhenti sejenak dan menyambut sapaan mereka. Yang terkadang, gak semua ucapan embah-embah yang kami temui dapat di pahami. Kami cukup menjawab "ia mbah...", "permisi mah...", gita-gitu aja hahaha.

Ngomong-ngomong budaya bersih-bersih, ini adalah hal yang sepatutnya dipertahankan. Selain memang menjaga kebersihan, budaya ini juga saya lihat sangat bagus untuk kita bergerak di pagi hari, apalagi di luar ruangan. Gak cuman itu, ini juga bisa jadi media komunikasi dengan orang-orang yang lewat di rumah kita. Hayo siapa di sini kalau di rumah masih suka bantu Ibu bersih-bersih? komen dong hahaha.

Nah, terus selama di Jogja ngapain aja selain gawe dan nginep di Pakem?
Beberapa tempat ini bisa jadi rekomendasi buat kamu kalo nanti ke Jogja:

1. Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku 


Kalimat tersebut merupakan kepanjangan salah satu museum di Joga, tepatnya di Kaliurang yaitu Museum Ullen Sentalu. Kalimat tersebut memiliki makna nyala lampu blencong; lampu blencong yaitu lampu yang dipergunakan saat pertunjukkan wayang kuli; merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan.

Museum yang pada mulanya sebagai museum koleksi pribadi ini banyak mengenalkan sejarah tentang peradaban Kerajaan Mataram yang terbagi menjadi empat; yaitu Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarya, Praja Mangkuneragam, dan Kadipaten Pakualaman.

Numpang Lewat
Untuk bisa masuk ke sini, kita akan dikenakan biaya tiket Rp.40.000,- per orang untuk domestik, dan Rp.1000.000,- untuk turis asing. Namun biaya tersebut sudah termasuk biaya parkir kendaraan, biaya pemandu, dan segelas wedang hangat.


Di museum ini kita akan disajikan dengan berbagai lukisan dan foto bangsawan pada zamannya, berbagai koleksi kain batik, alat musik seperti gamelan, arca, dan berbagai peninggalan lainnya yang menarik.

Yang perlu diperhatikan, kita tidak bolec ambil foto sembarangan di dalam kawasan museum. Akan ada sapot khusu dimana pengunjung diperbolehkan mengambil foto. Bagi kamu pecinta musem dan sejarah, Ullen Sentalu bisa jadi destinasi yang wajib dikunjungi jika kamu ke Jogja.

Boleh foto di sini gpp kok 
Oh ia, jangan lupa kalau kamu ke sini untuk menikmati buah salak yang dijual di sekitar kawasan museum. Harganya murah dan rasa salaknya enak, manis banget pokonya.


2. Waroeng of Raminten Hingga Kopi Klotok, Tempat Makan Andalan Jika Kamu ke Kaliurang

Waroeng of Raminten Kaliurang

(Gak banyak ambil foto di sini, fokus makan hahaha)

Di perjalanan menuju rumah Sista dan A Dimas, kami melipir ke Waroeng of Raminten untuk makan malam. Katanya sih, kalau ke Jogja wajib cobain rumah makan Raminten ini. Lokasinya ada banyak, tapi kalau kamu lagi di daerah Kaliurang, waroeng of Raminten Kaliurang bisa banget jadi andalan.

Wih, estetik, unik, penuh dengan nilai etnik. Itulah kesan pertama pas masuk ke Waroeng of Raminten. Lokasinya didesain sangat tradisional. Ini nampak jelas dari mulai saat masuk, kita akan disambut dengan pukulan Gong Tradisional yang dipukul oleh pelayxnnya seraya mengucapkan ucapan selamat datang bersama-sama.

Desain arsitektur dan hiasan-hiasan restorannya juga sangat penuh dengan hiasan etnik Jogja. Mulai dari patung-patung hiasan dengan pakaian Jogja, wayang, lukisan, dan musik gamelan tentunya.

Tempatnya sendiri dibagi jadi dua bagian. Bagian atas dekat pintu masuk dengan meja dan kursi seperti baiasa, dan bagian bawah terdapat dua bagian lesehan yang cukup besar yang ebgitu menarik dipisahkan kolam dan panggung.

Menu nya? wah siap-siap kalap deh, Menu nya komplit banget dan harganya sangat murah. Bagi kamu yang biasa makan banyak dijamin puas banget dan gak akan kebobolan dompet. Rasa dan pelayananya sendiri cukup memuaskan. Top deh pokonya!

Siap-Siap Ngantri di Kopi Klotok Yang Unik Abis


Seru abis pokonya
Aduh, sebelum beragkat ke Joga emang udah pengen banget buat datang ke tempat ini, Kopi Klotok. Foto-fotonya di media sosial bikin jatuh hati banget dan pengen nyobain datang ke sana. Bener gak sih se asik itu, bener gak sih pisang gorengnya nampol, dan bener gak sih murah nya super gila?

Terjawab sudah. Setelah jumatan, kami sekeluarga (hahaha) berangkat ke Kopi Klotok, sekitar 10 menit dari rumah Sista dan A Dimas. Ketika tiba di sana super penuh, sangat penuh dan antrian panjang telihat di barisan parasmanan.

Ngantri Bro!
Ah, tentu saja ini tidak menyurutkan semangat kami untuk makan di sini, karena emang udah lapar juga sih tentunya hahaha. Setelah mendapatkan tempat di luar, lesehan di depan sawah, banyak pohon pisang, dan di bawah pohon kelapa, kami pun bagi tugas.

Sista dan dede gemes diem di tempat yang sudah kami pilih. Saya, A Dimas, dan Teh Puji memesan makanan dan minuman. Saya dan A Dimas ikut antrian, kami berbagi tugas mau ambil apa aja. Mulai dari nasi, sayur asam, sayur lodeh, telor dadar spesial, ikan tongkol, dan sambal. Sementara Teh Puji memesan minuman es teh manis dan kopi klotok.

Belum selesai kami makan, saya pergi lagi ke dapur Kopi Klotok dan memesan pisang goreng dua porsi. Aduhai, enak suer hahaha.

Tempatnya unik :)
Kopi Klotok ini memang unik. Tempatnya sederhana, Bangunan nya seperti rumah joglo dengan bahan dasar kayu. Di dalamnya dibagi menjadi beberapa bagian:

Bagian dapur, kita bisa melihat langsung proses pelayan memasak semua menu makanan, termasuk bagian pisang diolah jadi pisang goreng yang mantap. Di bagian ini juga terdapat meja parasmanan utama, setiap pengunjung mengantri untuk mengambil menunya sendiri. Terdapat beberapa kursi dan meja juga untuk pengunjung yang memang mau makan di bagian itu.

Bagian tengah, di sini terdapat beberapa meja besar untuk pengunjung yang mau makan dalam jumlah banyakan. Di sini juga terdapat bagian untuk memesan minam, dan kasir. Dan terakhir bagian luar, terdapat beberapa kursi di halaman depan dan area lesehan beralaskan tikar.

Yok lesehan yok!
Secara garis besar, jika kamu ke Kopi Klotok kamu harus pesan makanan dan minuman secara terpisah. Untuk makanan utama ada di parasmanan, untuk memesan pisang goreng ada bagian khsuus di dapur jadi kamu tinggal datang dan sebutkan pesan berapa porsi, dan terakhir bagian pemesanan minuman.

Mas, Pisang Gorengnya 2 Porsi!
Sementara untuk pembayaran, dilakukan terakhir di kasir. Kamu cukup menyebutkan apa saja yang sudah kamu makan sebelumnya. Harganya? gak usah khawatir, kami makan berempat aja cuman Rp.100.00,- dengan menu yang kami pesan tadi. Duh kok bisa ya, mantap! hahaha.

Ini Enakkkk!!!

3. Menelusuri Estetiknya Kotagede 

Perjalnan ke Jogja yang sekalian nyambil gawe ini emang diniatkan gak mengunjungi candi-candi, selayaknya dulu pas pertama ke sini. Apalagi kalau kamu mungkin sering ke Jogja, rasanya wisata candi tak perlu sering-sering hehehe.



Beda hal nya ke Kotagede, banyak cerita unik yang saya dengar tentang kawasan ini, ditambah emang belum pernah ke sana hahaha. Secara singkat, kawasan sebelum 1952 wilayah ini merupakan bagian dari Kasunan Surakarta. Kotagede, menjadi nama sebuah kota yang saat itu merupakan Ibu Kota Kesultanan Mataram.



Yap, Kotagede adalah pemukiman warga. Namun uniknya, banyak bangunan-bangunan lama di setiap sudut kawasan ini. Mulai dari pasar, masjid tertua, makam raja-raja, dan kawasan rumah penduduk yang arsitekturnya masih dipertahankan sejak dulu.

Ada Rumah Pocong Sumi yang hist itu, Tapi gak berani masuk :(
Hari itu saya ditemani sama Febrsika, sahabat saya yang emang asli orang Jogja. Kami bertemu saat melakukan Ekspedisi dulu di Desa Petaling, Bangka Belitung.

Saat kami ke kawasan Masjid dan makam raja-raja, ada yang sedang pra wedding. Duh manisnya hehehe. Secara spontan kami bergabung dengan Tim Fotografi mereka untuk mengabadikan moment itu. "Wah, ada fotografer tambahan" ujar salah satu tim mereka sambil tertawa,

Jadi pengen nikah, Eh! hahaha

Kalau ke kotagede dan menggunakan sepeda motor, kamu bisa parkir di halaman Masjid nya. Kemudian bisa menelusuri keunikan setiap sudut Kotagede dengan berjalan kaki. Enaknya di sore hari, supaya adem, mengingat Jogja panas hahaha. Tapi kalau sekrang mungkin siang hari akan lebih baik, karena musim penghujan sudah tiba di sana.

4. Berenang Sama Ikan? Bisa Banget di Umbul Ponggok!

Sedikit melipir dari kehidupan Ibu Kota, saya yang hari itu juga ditemani Sista dan A Dimas memutuskan untuk membuktikan kejernihan Umbul Ponggok, yang kalo kita buka di internet atau media sosial air nya super jernih dan terlihat begitu menyegarkan.

Umbul Ponggok merupakan wisata air yang terletak di desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu jam setengah menggunakan mobil. Sista dan dede emes Taqi terlelap di tengah perjalanan, meskipun cuaca cukup panas tapi tidur jadi pilihan apalagi setelah kenyang menyantap Gudeg Yu Djum sebelum kami berangkat.


Mendekati lokasi Umbul Ponggok, saya terkesima dengan pemandangan yang cukup menyegarkan. Mulai dari jalannya yang emang bagus, hamparan sawah atau kebun jagung sungguh bikin mata melek.

Setelah parkir mobil dengan biaya 10 ribu, kami masuk ke Umbul Ponggok dengan tiket Rp.15.000,- per orang. Dan saat masuk, tadaaa !!!! Sumpah, air nya jernih banget sampe ikan-ikan dan dasar kolam nya keliatan. Gak boong deh apa yang diliat di media sosial.


Kalau kata Ibu Warung yang jualan di sana, umbul ya artinya itu ada air nyembul dari bawah. Jadi air ini benar-benar asli keluar dari alam. Dulunya ini digunakan warga sekitar untuk keperluan mandi dan cuci seperti biasa, kemudian dibangun jadi kawasan wisata.

Syegerrrr!!!
Warga udunan untuk nyumbang aset pembangunan Umbul ponggok, dan saat ini banyak wisatawan yang juga bisa menikmati kesegaran air nya. Tidak hanya untuk wisatawan, sumber air di sini juga dimanfaatkan oleh PDAM sebagai sumber ar utama, kemudian pembuangan dari Umbul Ponggok ini digunakan warga untuk mengairi sawah dan kolam-kolam ikan milik warga. Keren!

5. Menikmati Senja di Abhyagiri

Kalau kamu berkunjung ke kawasan Candi Prambanan, cobalah melipir ke Abhyagiri Restaurant. Jaraknya di atas bukit dengan hamparan pemandangan yang menakjubkan. Secara administratif, Abhyagiri terletak di Sumberwatu Heritage Resort, Sambirejo, Prambanan. Kabupaten Sleman.

Mungkin sekitar 10-15 menit dari Prambanan, kamu sudah bisa tiba di sini. Bisa juga andalkan aplikasi Google Maps. Supaya gak nyasar hahaha.

Indah!
Yang menjadi andalan di Abhyagiri tentunya kawasan outdoor, karena kita bakal disguhkan suasana yang amat romantis. Saat kami tiba, beberapa pengunjung bahkan meninggalkan barang bawaan mereka di meja nya, smeentara mereka asik befotot ria di berbagai sueur Abhyagiri.


Kami tiba sekitar pukul lima sore, saat senja tiba dan langit mulai berwarna keemasan. Ah indah!
Dari sini, kita bahkan bisa melihat kawasan Candi Prambanan, kebetulan sore itu langit sangat cerah, jadi kami bisa menikmati suasana hingga menjelang malam.


Jika malam, kita akan disuguhkan dengan lampu-lampu di sekitar Abhyagiri yang membuat lokasi ini tambah istimewa. Di setiap meja, pelayan juga akan menyiapkan lilin untuk kita. Romantis banget kan?

6. Pernah ada Rasa yang Singgah di Sana, di Jiwajawi Jogja

Sebelum pulang ke Bandung, ada satu tempat yang memang saya ingin sekali kunjungi, Jiwajawi Jogja. Selain tempatnya kalau diliat di media sosial sangat menarik, pernah ada rasa yang singgah di sana.

Seseorang yang dikagumi pernah di sana, bersama orang yang dia sangat lebih kagumi. Anjay maaf ini gak dilanjut hahaha.

Lokasinya sih memang gak di pusat Kota Jogja, perlu sekitar 20-30 menit menggunakan motor dari pusat kota. Beroperasi sekitar Februari 2019, Jiwajawi terletak di jalan Bangunjiwo Podo Asih, Salakan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Jogjakarta, lengkapkan? hahaha.


Saat tiba di sini, kamu akan disambut dengan gerbang utama Jiwajawi yang ikonik. Mirip di film avatar hahaha. Tepat di gerbang utama, ada penghubung jembatan di atas kolam. Saat masuk ke area Jiwajawi, kamu akan disambut dengan hamparan taman luas, rindang nya pepohonan, dan Joglo utama Jiwajawi.

Kamu bisa menikmati sensasi ngopi asik di tengah hutan. Pendopo utama yang memang sudah ada sejak lama disulap jadi ruangan utama Jiwajawi, tentu saja dengan senuthan arsitektur khas jawa.


Di sebelah kiri Joglo utama, ada bangunan dengan arsitekur eropa dua lantai. Fungsinya sebagai dapur, pantry, dan ruang indoor bagi pengunjung di lantai dasar dengan konsep yang lebih modern.


Setelah melewati Joglo utama, kita akan disuguhkan dengan area outdoor yang asik dan menenangkan. Beberapa meja dan kayu panjang diletakan di beberapa sudut, pohon besar dan rindang jadi atap alami dan bikin makin sejuk suasana.

Mata kita akan dimanjakan dengan hamparan taman hijau dan phon rindang lainnya di area depan, lengkap dengan beberapa kursi dan meja dari batu yang juga bisa kita tempati. Jika ada angin bertiup siap-siap dibuat takjub dengan suara deduanan yang begitu merdu.



Buat kamu yang hobi foto-foto, hampir seluruh sudut Jiwajawi bisa banaget jadi objek, instagramable banget deh pokonya. Harga? di Jiwajawi menunya dibandrol antara Rp.5000,- sampai sekitar Rp.50.000,-


Segitu dulu cerita kali ini, semoga bermanfaat ya :)
Jangan lupa komentarnya, boleh dishare juga, dan follow blog nya juga boleh banget hahaha.

Salam,


You Might Also Like

1 komentar

Popular Posts